Gerombolan siswa
berhamburan keluar dari masing-masing kelasnya. Bel istirahat baru saja
berbunyi. Namun, terlihat di pojok ruang kelasnya, seorang siswi hanya duduk
dan asyik dengan handphone-nya. Dia
sedang sangat sangat bahagia. Kenapa? Well,
dia baru saja dikirimi foto crush-nya
oleh seseorang. Oke, mari kita lihat siapa siswi satu ini.
Namanya Seira Andriani,
biasa dipanggil Sera atau Ira, tapi dia lebih suka dipanggil Ra. Kenapa? Entah
dia juga tidak tahu. Jelek, hitam, jerawatan, pendek, kacamata tebal, itulah
deskripsi yang biasa dia buat untuk dirinya sendiri. Dia sebenarnya mempunyai
bulu mata yang lentik, sangat, tapi dia bilang itu tidak berguna karena sudah
tertutupi kacamata tebalnya. Oh, satu lagi, dia sedang menyukai seseorang.
Tampan, pintar, keren, ketua OSIS, ketua kelas, tinggi, putih, alim, dan baik,
itulah deskripsi yang orang-orang buat untuk gebetan Sera.
Waktu itu, Sera
terlambat datang ke sekolah, dengan semangat yang membara karena takut ketahuan
guru BP, dia berlari kencang melewati pagar sekolah yang hampir tertutup. Dia
lolos dari guru BP, tapi tidak terlalu beruntung karena tiba-tiba dia telah
menabrak seseorang. Orang yang dia tabrak... berakhir jatuh ke kolam ikan. Sera
mencoba menolongnya, dan di saat itulah pandangan mereka bertemu. Bola mata
laki-laki itu berwarna coklat muda terkena paparan sinar mentari pagi,
hidungnya yang mancung, dan wajahnya terlihat sangat... sempurna.
Sial, mengapa di saat
itu dia masih sempat mengaguminya bukan malah menolongnya?
Dia juga masih ingat
saat mereka pertama kali berbicara, “Kamu...
gak papa?” Tanyanya.
“Aku gak papa, tenang. Kamu duluan aja, aku
mau ganti baju.” Ucap laki-laki itu lembut. “Ma... maaf.” Sera lantas pergi meninggalkan laki-laki itu yang
masih basah kuyup.
Untuk pertama kalinya,
jantung Sera seakan berhenti berdetak, dan waktu seakan berhenti berputar.
Sera selalu tidak percaya
diri dengan penampilannya. Dia tidak cantik ataupun terkenal, dia hanya gadis
biasa yang kebetulan bisa berada di kelas unggulan yang sama dengan gebetan-nya, atau biasa disebut dia
sedang hoki saat pembagian kelas. Menurutnya
juga, dia tidak sebanding dengan laki-laki itu. Laki-laki itu berada sangat
dekat karena merupakan teman sekelasnya, tapi sangat jauh untuk digapai.
“Ser, kamu enggak ke
kantin?” Teman sebangku Sera menempati tempatnya dan bertanya.
Sera segera tersadar
dari lamunannya sesaat dan kembali lagi asik dengan dunianya.
“Serrrr.... gurunya
udah dateng.”
Barulah, dia tersadar
penuh. Dengan cepat, dia mematikan handphone-nya
dan kembali fokus, saatnya belajar untuk masa depan. Dia tidak lupa bahwa dia
masih memiliki kesempatan untuk masa depan yang cerah bukan hanya terpaku untuk
cinta sebelah tangannya.
“Aku lihat tadi, kamu
lagi ngeliatin foto Ari, ya?”
Sera menoleh dan
cengar-cengir tidak jelas.
Kring...
“Ser, aku duluan, ya.
Mau les, see you besok!”
Bel
terakhir sudah berbunyi, waktunya kembali ke rumah. Waktu belajar Sera tinggal
seminggu lagi menuju ujian kelulusan. Ia sepertinya harus berusaha keras untuk
mendapat nilai yang lumayan. Bukan untuk menunjukkannya pada Ari, orang yang
dia sukai, tapi untuk dirinya sendiri. Keputusannya sudah bulat, dia akan
belajar keras dan melupakan Ari sementara untuk fokus pada masa depannya.
Beberapa tahun berlalu,
Sera mengalami perubahan. Putih, cantik, pintar, bulu mata yang lentik dan bisa
dibilang lumayan terkenal. Perpaduan yang sempurna. Deskripsi yang dia gunakan
untuk dirinya dulu sebenarnya masih sama. Namun, hanya anggapan orang-orang
yang berbeda. Dia juga tidak peduli dengan anggapan orang.
Kini, dia sedang
menyesap kopi di sebuah kedai kopi. Dengan sebuah laptop di hadapannya,
menyelesaikan pekerjaannya untuk mengirim sebuah rancangan fashion yang baru saja dia buat ke perusahaan ternama tempatnya
bekerja. Tidak lama mengirimkannya, dia sudah selesai. Hey, tiba-tiba dia
teringat sesuatu. Sesuatu yang membuatnya berubah sepesat ini.
Saat itu perpisahan
sekolah tengah berjalan. Sera yang tidak terbiasa memakai segala jenis kebaya
dan embel-embelnya serta high heels harus
berjalan menuju panggung sekolah. Kenapa? Well,
dia mendapat peringkat pertama peraih nilai ujian tertinggi di sekolahnya.
Siapa yang menyangka dia sedang hoki?
Oh, bukan, dia hanya bekerja keras.
“Dan peraih nilai ujian tertinggi kedua diberikan kepada... Ari Arsenio
Adrian! Berikan tepuk tangan yang meriah dan kepada saudara diharapkan maju ke
atas panggung menempati posisi yang telah disediakan.” Ucap MC di acara
itu.
Sera terkejut. Bukan
karena Ari yang mendapat peringat dua di bawahnya, bukan. Itu karena Tara,
teman sekelasnya yang juga merupakan teman sekelas Ari, memeluk Ari. Sungguh,
pemandangan itu membuatnya hatinya agak terluka. Ralat, hatinya sangat terluka.
Senang dan sedih di saat yang bersamaan. Dia senang karena mendapat hasil kerja
kerasnya dan dia terluka melihat pemandangan itu. Rasanya dia ingin pulang ke
rumahnya saja dan membenamkan wajahnya di bantal, menangis.
“Selamat, ya, Ra. Aku gak nyangka kamu sepintar ini, hehe.” Ucap Ari
begitu maju ke panggung dan berdiri di sebelah Sera. Inilah kedua kalinya
mereka berbicara selama tiga tahun. Suaranya masih terdengar seperti dahulu
saat pertama kali, lembut dan menyejukkan hati. Namun, kenapa rasanya hati Sera
masih sakit bahkan ketika dia mendengar suara itu menyapanya?
Sera hanya mengangguk
dan tersenyum tipis. Sejak kejadian itu, dia tidak pernah memikirkan Ari lagi.
Tunggu... jadi kenapa
sekarang dia malah membuka kembali memori lama itu!?
Krieett...
pintu
masuk kedai kopi tersebut dibuka oleh seseorang. Seorang pria berjaket kulit
dengan kacamata hitam serta sneaker putih
masuk ke dalam. Pria itu melihat sekitarnya lantas berjalan menuju sebuah meja
dan akhirnya berhenti di satu meja. Sera yang sedang memandangi tingkah laku
pria itu terkejut karena pria itu tiba-tiba berhenti tepat di mejanya lalu
memandanginya. Pandangan mereka kembali bertemu, mata coklat itu dan hidungnya
serta wajahnya, masih sama seperti dahulu.
“Ra? Ini kamu?”
Tanyanya sambil menduduki tempat di depan Sera. Sera mengedipkan matanya
sekali, dua kali, dan ketiga kalinya dia tersadar.
“Iya. Ka... kamu Ari?”
“Iya, aku Ari. Ari
Arsenio Adrian. Teman sekelas kamu dulu. Kalau tidak salah, aku juga bos kamu
di perusahaan kamu kerja, bukan?”
“Iya ya? Hehehe.” Sera
baru teringat dia mempunyai direktur di perusahaan tempatnya bekerja yang
bernama Ari.
“Kamu sendiri di sini?”
“Iya. Kamu? Seingat
aku, Tara sama kamu... kalian...?” Sera mencoba mengingat kenangan menyakitkan
itu dan bertanya fakta di balik semuanya.
“Oh, itu, Tara itu adik
kandung aku. Sebenarnya kita kembar, gak mirip ya? Hahaha...”
“Iya, sih. Jadi, ternyata
begitu...”
Inilah pembicaraan
ketiga kalinya dari mereka, dan sepertinya akan terus berlanjut entah hingga
keberapa kalinya. Pembicaraan itu mengalir begitu saja. Tentang masa-masa
mereka dahulu, teman-teman sekelas mereka, dan Ari yang dulu juga menyukainya.
Otak Sera seperti
berhenti berfungsi, sekujur tubuhnya serasa kaku, rindu yang tidak tertahankan
dan penantiannya yang berharga. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Biarlah waktu tetap
berputar saat ini dan bumi tetap berotasi di sekeliling mereka yang sedang
membuka kenangan atau bahkan merajut masa depan?
pict from : WeHeartIt
song that fits this story is hereee!
song that fits this story is hereee!
