Saturday, January 20, 2018

Aku, Dia, dan Waktu



Gerombolan siswa berhamburan keluar dari masing-masing kelasnya. Bel istirahat baru saja berbunyi. Namun, terlihat di pojok ruang kelasnya, seorang siswi hanya duduk dan asyik dengan handphone-nya. Dia sedang sangat sangat bahagia. Kenapa? Well, dia baru saja dikirimi foto crush-nya oleh seseorang. Oke, mari kita lihat siapa siswi satu ini.
Namanya Seira Andriani, biasa dipanggil Sera atau Ira, tapi dia lebih suka dipanggil Ra. Kenapa? Entah dia juga tidak tahu. Jelek, hitam, jerawatan, pendek, kacamata tebal, itulah deskripsi yang biasa dia buat untuk dirinya sendiri. Dia sebenarnya mempunyai bulu mata yang lentik, sangat, tapi dia bilang itu tidak berguna karena sudah tertutupi kacamata tebalnya. Oh, satu lagi, dia sedang menyukai seseorang. Tampan, pintar, keren, ketua OSIS, ketua kelas, tinggi, putih, alim, dan baik, itulah deskripsi yang orang-orang buat untuk gebetan Sera.
Waktu itu, Sera terlambat datang ke sekolah, dengan semangat yang membara karena takut ketahuan guru BP, dia berlari kencang melewati pagar sekolah yang hampir tertutup. Dia lolos dari guru BP, tapi tidak terlalu beruntung karena tiba-tiba dia telah menabrak seseorang. Orang yang dia tabrak... berakhir jatuh ke kolam ikan. Sera mencoba menolongnya, dan di saat itulah pandangan mereka bertemu. Bola mata laki-laki itu berwarna coklat muda terkena paparan sinar mentari pagi, hidungnya yang mancung, dan wajahnya terlihat sangat... sempurna.
Sial, mengapa di saat itu dia masih sempat mengaguminya bukan malah menolongnya?
Dia juga masih ingat saat mereka pertama kali berbicara, “Kamu... gak papa?” Tanyanya.
Aku gak papa, tenang. Kamu duluan aja, aku mau ganti baju.” Ucap laki-laki itu lembut. “Ma... maaf.” Sera lantas pergi meninggalkan laki-laki itu yang masih basah kuyup.
Untuk pertama kalinya, jantung Sera seakan berhenti berdetak, dan waktu seakan berhenti berputar.
Sera selalu tidak percaya diri dengan penampilannya. Dia tidak cantik ataupun terkenal, dia hanya gadis biasa yang kebetulan bisa berada di kelas unggulan yang sama dengan gebetan­-nya, atau biasa disebut dia sedang hoki saat pembagian kelas. Menurutnya juga, dia tidak sebanding dengan laki-laki itu. Laki-laki itu berada sangat dekat karena merupakan teman sekelasnya, tapi sangat jauh untuk digapai.
“Ser, kamu enggak ke kantin?” Teman sebangku Sera menempati tempatnya dan bertanya.
Sera segera tersadar dari lamunannya sesaat dan kembali lagi asik dengan dunianya.
“Serrrr.... gurunya udah dateng.”
Barulah, dia tersadar penuh. Dengan cepat, dia mematikan handphone­-nya dan kembali fokus, saatnya belajar untuk masa depan. Dia tidak lupa bahwa dia masih memiliki kesempatan untuk masa depan yang cerah bukan hanya terpaku untuk cinta sebelah tangannya.
“Aku lihat tadi, kamu lagi ngeliatin foto Ari, ya?”
Sera menoleh dan cengar-cengir tidak jelas.
Kring...
“Ser, aku duluan, ya. Mau les, see you besok!”
Bel terakhir sudah berbunyi, waktunya kembali ke rumah. Waktu belajar Sera tinggal seminggu lagi menuju ujian kelulusan. Ia sepertinya harus berusaha keras untuk mendapat nilai yang lumayan. Bukan untuk menunjukkannya pada Ari, orang yang dia sukai, tapi untuk dirinya sendiri. Keputusannya sudah bulat, dia akan belajar keras dan melupakan Ari sementara untuk fokus pada masa depannya.


Beberapa tahun berlalu, Sera mengalami perubahan. Putih, cantik, pintar, bulu mata yang lentik dan bisa dibilang lumayan terkenal. Perpaduan yang sempurna. Deskripsi yang dia gunakan untuk dirinya dulu sebenarnya masih sama. Namun, hanya anggapan orang-orang yang berbeda. Dia juga tidak peduli dengan anggapan orang.
Kini, dia sedang menyesap kopi di sebuah kedai kopi. Dengan sebuah laptop di hadapannya, menyelesaikan pekerjaannya untuk mengirim sebuah rancangan fashion yang baru saja dia buat ke perusahaan ternama tempatnya bekerja. Tidak lama mengirimkannya, dia sudah selesai. Hey, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Sesuatu yang membuatnya berubah sepesat ini.
Saat itu perpisahan sekolah tengah berjalan. Sera yang tidak terbiasa memakai segala jenis kebaya dan embel-embelnya serta high heels harus berjalan menuju panggung sekolah. Kenapa? Well, dia mendapat peringkat pertama peraih nilai ujian tertinggi di sekolahnya. Siapa yang menyangka dia sedang hoki? Oh, bukan, dia hanya bekerja keras.
Dan peraih nilai ujian tertinggi kedua diberikan kepada... Ari Arsenio Adrian! Berikan tepuk tangan yang meriah dan kepada saudara diharapkan maju ke atas panggung menempati posisi yang telah disediakan.” Ucap MC di acara itu.
Sera terkejut. Bukan karena Ari yang mendapat peringat dua di bawahnya, bukan. Itu karena Tara, teman sekelasnya yang juga merupakan teman sekelas Ari, memeluk Ari. Sungguh, pemandangan itu membuatnya hatinya agak terluka. Ralat, hatinya sangat terluka. Senang dan sedih di saat yang bersamaan. Dia senang karena mendapat hasil kerja kerasnya dan dia terluka melihat pemandangan itu. Rasanya dia ingin pulang ke rumahnya saja dan membenamkan wajahnya di bantal, menangis.
Selamat, ya, Ra. Aku gak nyangka kamu sepintar ini, hehe.” Ucap Ari begitu maju ke panggung dan berdiri di sebelah Sera. Inilah kedua kalinya mereka berbicara selama tiga tahun. Suaranya masih terdengar seperti dahulu saat pertama kali, lembut dan menyejukkan hati. Namun, kenapa rasanya hati Sera masih sakit bahkan ketika dia mendengar suara itu menyapanya?
Sera hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Sejak kejadian itu, dia tidak pernah memikirkan Ari lagi.
Tunggu... jadi kenapa sekarang dia malah membuka kembali memori lama itu!?
Krieett... pintu masuk kedai kopi tersebut dibuka oleh seseorang. Seorang pria berjaket kulit dengan kacamata hitam serta sneaker putih masuk ke dalam. Pria itu melihat sekitarnya lantas berjalan menuju sebuah meja dan akhirnya berhenti di satu meja. Sera yang sedang memandangi tingkah laku pria itu terkejut karena pria itu tiba-tiba berhenti tepat di mejanya lalu memandanginya. Pandangan mereka kembali bertemu, mata coklat itu dan hidungnya serta wajahnya, masih sama seperti dahulu.
“Ra? Ini kamu?” Tanyanya sambil menduduki tempat di depan Sera. Sera mengedipkan matanya sekali, dua kali, dan ketiga kalinya dia tersadar.
“Iya. Ka... kamu Ari?”
“Iya, aku Ari. Ari Arsenio Adrian. Teman sekelas kamu dulu. Kalau tidak salah, aku juga bos kamu di perusahaan kamu kerja, bukan?”
“Iya ya? Hehehe.” Sera baru teringat dia mempunyai direktur di perusahaan tempatnya bekerja yang bernama Ari.
“Kamu sendiri di sini?”
“Iya. Kamu? Seingat aku, Tara sama kamu... kalian...?” Sera mencoba mengingat kenangan menyakitkan itu dan bertanya fakta di balik semuanya.
“Oh, itu, Tara itu adik kandung aku. Sebenarnya kita kembar, gak mirip ya? Hahaha...”
“Iya, sih. Jadi, ternyata begitu...”
Inilah pembicaraan ketiga kalinya dari mereka, dan sepertinya akan terus berlanjut entah hingga keberapa kalinya. Pembicaraan itu mengalir begitu saja. Tentang masa-masa mereka dahulu, teman-teman sekelas mereka, dan Ari yang dulu juga menyukainya.
Otak Sera seperti berhenti berfungsi, sekujur tubuhnya serasa kaku, rindu yang tidak tertahankan dan penantiannya yang berharga. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Biarlah waktu tetap berputar saat ini dan bumi tetap berotasi di sekeliling mereka yang sedang membuka kenangan atau bahkan merajut masa depan?



 pict from : WeHeartIt
 song that fits this story is hereee!

Share:

Song