Wednesday, March 14, 2018

Chapter 5 Astrophobia


Bright segera mengerjapkan matanya beberapa kali. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Apakah benar ia menabrak kepala sekolah?  Selang beberapa detik, ia menghela nafas lega. Ternyata yang ditabraknya memang bukan kepala sekolah. Tapi...kenapa ia sangat mirip dengan kepala sekolah?
            Entah sedang beruntung atau tidak, orang yang gadis itu tabrak adalah orang yang sedang dicarinya. Laki-laki itu yang sangat dingin dan aneh. Laki-laki penyelamat hidupnya saat ini. Ah tidak, itu terlalu berlebihan. Yang hanya perlu Bright lakukan sekarang ini adalah meminta laki-laki itu mengantarkan ke ruang kelasnya.
            “Ka...kamu yang tadi kan? Jadi...ruang kelasnya dimana, ya?” ucap Bright terbata-bata. Ini sangat canggung menurutnya.
            “Oke oke baiklah, aku antar kamu ke kelas.” Jawab laki-laki itu. Nada bicaranya sekarang berubah drastis. Sebenarnya apa yang terjadi dengan laki-laki ini?
            Bright dan laki-laki yang tidak diketahui namanya itu kemudian mulai berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas. Laki-laki itu berada di depan memimpin jalan. Tak ada satu kata pun yang terucap antara mereka berdua, entah itu menanyakan nama atau apapun, yang terdengar hanyalah bunyi hentakan kaki dari langkah mereka masing-masing.
            Tak lama kemudian mereka sampai di depan ruangan kelas. Pintunya tertutup rapat tanda pelajaran sudah dimulai sedari tadi. Tugas laki-laki itu telah selesai sampai disini. Ia berbalik badan dan mulai melangkah menjauhi ruang kelas, entah menuju kemana. Bright berdiam diri sebentar, ia sedang berpikir, kenapa laki-laki itu tidak memasuki kelas dan malah pergi?
            “Hey, kamu, kamu gak masuk kelas?” Bright memberanikan diri untuk angkat bicara dan bertanya. Rasa penasarannya lebih besar dibanding rasa takutnya.


            “Gak perlu. Kamu masuk aja sana ke kelas. Belajar yang rajin.” laki-laki itu berjalan berbalik arah menuju Bright, hingga jaraknya cukup dekat, ia mengusak-usak kepala Bright dan berlalu pergi. Jelas Bright tersentak kaget, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mematung.  Fokus Bright! Ia sempat berbicara dalam hati untuk menyadarkan dirinya sendiri lantas membuka pintu ruang kelas.
***

           
 pict from : https://www.theodysseyonline.com/40-things-wish-knew-in-high-school

Share:

0 comments:

Post a Comment

Song