Wednesday, March 14, 2018

Tersangka


Entah dimana ia menaruhnya kali ini. Sering sekali ini terjadi. Barang-barang miliknya tak jarang berakhir dengan naas, tidak ditemukan dimana-dimana, dengan alasan ia lupa menaruhnya. Mungkin memang karena ingatannya yang tidak terlalu bagus dan memang kebiasaan.
Pagi ini, seluruh isi rumah dibuat repot akibat kebiasaan sang anak sulung itu. Ia lupa menaruh sepatunya. Alhasil, semuanya ikut mondar-mandir membantunya untuk mencari sepatunya karena sebentar lagi juga ia akan berangkat ke sekolah. Mau tak mau, adik, ibu, dan, ayahnya merasa tidak tega untuk membiarkan sang anak sulung terlambat datang ke sekolah.
“Aish, di mana kau sepatuku yang malang?” gumam Tera-nama sang anak sulung- sambil membersihkan hidungnya yang terkena debu akibat gumpalan-gumpalannya di pinggiran rak sepatu saat sedang mencari. Tidak menemukannya di sana, lantas ia beranjak ke luar rumah, untuk mencari pencerahan di mana sepatunya berada,
Taman yang indah nan cantik berada di sayap kiri rumahnya dan di bagian kanannya sendiri terdapat garasi terbuka berisi satu mobil yang masih terparkir. Tiba-tiba saja, terbesit ingatan di pikirannya jika mungkin saja sepatunya berada di kolong mobil. Mungkin hal yang mustahil, tapi refleks kepalanya menunduk untuk melihat bagian bawah mobil dan sepersekian detik mengangkatnya lagi. Tunggu...sepertinya ia melihat sesuatu. Kepalanya menunduk lagi, dan mulutnya terbuka lebar secara perlahan. Ia telah menemukan sepatunya.
***

“Teraaa ....,” panggil seorang  gadis yang sebaya dengannya.
Mereka bertemu dan bertos-ria tanda persahabatan.
“Kau datang lebih lambat dari biasanya, tapi bukan berarti kau setiap hari datang cepat juga. Hmm ... biar kutebak, kau datang lebih lambat pasti karena ... kau lupa lagi, bukan?” ujar gadis itu diiringi kekehan kecil. Ia sudah hafal betul kebiasaan unik sahabatnya ini.
“Ya, kali ini aku lupa menaruh sepatuku. Coba tebak di mana aku menemukannya, di kolong mobil! Aku tidak percaya, aku bisa melemparnya sampai ke sana sehabis pulang sekolah kemarin.” Ia dan sahabatnya terus mengobrol diiringi canda tawa sambil berjalan menuju loker. Di sekolah ini, setiap masing-masing siswa diberi satu loker sebagai tempat penyimpanan alat-alat sekolahnya seperti, antara lain; buku, sepatu, baju ganti, dan lain-lain. Kebetulan dua sejoli itu mendapat loker yang bersebelahan.

Mendengar bel sekolah yang berbunyi, Tara bergegas mengambil buku-bukunya dan menutup loker dengan agak kasar. Sebuah kertas kecil tiba-tiba melayang keluar ketika ia menutup lokernya tersebut. Karena buru-buru, ia mengambil kertas itu dan menggenggamnya sembari berlari menuju kelas yang sama dengan sahabatnya.

Kelas terakhir sudah berlalu. Kini waktunya mereka kembali ke rumah. Liburan semesteran sudah dimulai sejak detik ini juga. Lagi-lagi sembari berjalan, Tera dengan sahabatnya, Seli, kembali bertukar cerita. Tak terhitung sudah keberapa kalinya cerita itu dibahas mereka. Namun, mungkin itulah yang membuat mereka tetap bersama sampai tujuh tahun lamanya.
“Hei, tadi aku mendapat sebuah kertas di lokerku,” kali ini Tera mulai menceritakan kertas yang ditemuinya tadi di loker saat buru-buru pergi ke kelas, “aku tidak tahu siapa yang menaruhnya tapi isinya ....” ucapannya terputus karena sebuah suara mengganggunya.
“Hei, badan besar!” seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi taman mengejek Tera. Ia adalah teman sekelas Tera. Kelakuannya sungguh tidak bisa dibilang sebagai teman. Tera adalah salah satu yang menjadi bahannya karena tubuh Tera yang gendut.
“Udah, biarin aja dia, Tera,” ucap Seli sambil menurunkan kepalan tangan Tera yang mengepal sempurna. “Jadi, apa isi kertas itu?” tanyanya kembali melanjutkan obrolan yang sempat  terhenti.
“Sebenarnya, tidak terlalu penting tapi ... hei, aku sudah dijemput! Sampai jumpa kembali di tahun ajaran mendatang!”
Tiba di rumah, Tera merebahkan dirinya di ranjang kecil miliknya. Ia menatap lamat-lamat kertas yang sedang dipegangnya. Matanya hampir tak berkedip dan seluruh pikirannya terfokuskan kepada isi yang ada di kertas itu. Seolah tersihir, ia ingin mencoba melakukan apa yang kertas itu tuliskan.
***

1 bulan kemudian...
Liburan sekolah telah berakhir. Hari yang ditunggu-tunggu sudah datang. Tak sabar bertemu kembali dengan semua jenis manusia di sekolah. Begitu juga dengan Tera, ia rindu dengan sekolah, guru-guru ataupun teman-teman sekelasnya, tak terkecuali dengan Seli.
Tera menapakkan kakinya melewati gerbang sekolah. Sebelum itu terjadi, Seli yang memang langganan untuk datang cepat ke sekolah meneriakkan namanya keras-keras. Semua orang yang berada di tempat kejadian lantas menoleh sebentar melihat apa yang terjadi dan kemudian kembali tak acuh.
“Seliii!” Tera menjawab teriakan Seli. Mereka melepas rindu dengan melakukan tos persahabatan, menari-nari tidak jelas, dan entah apa lagi, yang penting rindu di hati sudah tidak lagi bersarang.   
“Hmm ... bisakah kalian menyingkir? Kalian merusak pemandangan, ckck.  Kau, Tera, yah ... waw, kau berubah, benar-benar berubah. Tidak bisa dipercaya,” ucap teman sekelas Tera yang sering mengatainya ‘badan besar’, ia sedari tadi duduk di sana dan secara tidak sengaja memerhatikan acara lepas-rindu-antar-sahabat.
“Apaan kau ini!? Pagi-pagi sudah bikin emosi saja. Tunggu ... apa maksudmu berubah?” Seli memandangku heran dan perlahan matanya membulat kaget. “Astaga Tera! Apa kau diet atau semacamnya? Waw, dan itu hanya dalam satu bulan, super sekali. Kali ini kau benar, bung!” Seli mengacungkan jempolnya kepada anak laki-laki itu.
“Aku memang selalu benar,” ucap laki-laki itu membanggakan dirinya sendiri dan beranjak pergi.

“Jadi, bagaimana bisa kau berubah secepat ini?” tanya Seli kepada Tera ketika bel istirahat telah dibunyikan. Seli memang sudah sedari tadi ingin merecoki Tera dengan deretan pertanyaan, tapi terhalang oleh pelajaran Matematika yang tidak ia sukai. Minggu kemarin, nilai matematikanya benar-benar buruk, jadi ia terpaksa memperhatikannya dengan baik.
“Diet,” jawab Tera singkat.
“Lalu, kenapa kau diet?” Pertanyaan kedua yang dilontarkan Seli.
“Kau tahu... Tiba-tiba, aku ingin melakukannya ketika melihat kertas itu. Ini aneh, aku bahkan tidak tahu siapa yang menulisnya.”  Tera sedikit berbisik.
“Hm...aku lumayan pandai dalam tebak-tebakan. Biarkan aku berpikir sebentar,” Seli menopang dagunya dan sebelah tangannya lagi dibuat untuk mengelus-elus pelipisnya, katanya.  “Tunggu ... apa itu kau yang menulisnya?”
Tera melihat sudut pandang Seli yang menghadap lurus, tepat ke arah pintu kelas. Itu berarti ... dia bertanya pada anak laki-laki yang sering mengejeknya gendut. Tera berfikir, mana mungkin anak itu yang menulisnya. Dia sering mengejek Tera, tapi bahkan teman sekelasnya yang lain tidak pernah mengejeknya. Kesimpulannya, hanya dia yang mengejek Tera. Jadi, kemungkin besar ... diakah pelakunya?
“Oh...kertas itu, aku tidak...bukan aku-“
Pertanyaan Seli terputus oleh bel masuk. Mungkin akan dilanjutkan nanti sehabis pulang sekolah ... atau tiga hari berikutnya?
Sudah tiga hari berlalu, anak laki-laki itu belum menjawab pertanyaan Seli. Ia selalu saja dapat menghindar dan juga selalu saja ada halangannya. Namun, untuk Seli, ia belum menyerah, ini menarik dan harus dipecahkan.
“Hey, kau belum menjawab pertanyaanku! Mau ke mana kau!?” Seli menghela napas kesal. Anak itu kabur lagi dan pertanyaannya akan ditunda kembali.
“Permisi ... apa ini kelas kakakku?” Suara seorang perempuan tiba-tiba datang menginterupsi Seli.
Itu suara adik Tera. Setahu Tera, adiknya tidak pernah mau masuk ke kelasnya. Mungkin ini sangat mendesak, pikir Tera.
“Ada apa?” tanya Tera santai. Ia sedang menikmati istirahatnya dengan novel di tangannya.
“Buku PR-ku, tertukar dengan milikmu.”
“Ambil saja di tasku,” kata Tera, tidak beranjak sedikit pun.
Sambil menggerutu, adik Tera mengambil tas kakaknya dan mengobrak-abrik isinya.
“Hei, kau masih menyimpan kertas ini!” pekik adiknya tiba-tiba. Tera kaget dan melihat apa yang adiknya bicarakan. Kertas itu. Kertas yang sudah beberapa hari ini menjadi buah bibir antara Tera dan Seli. Apa yang adiknya ketahui tentang kertas itu?
“Kenapa dengan kertas itu?” Seli yang terlihat masih kesal.
“Maksudnya? Bukankah kakakku sendiri yang menulisnya? Ia tidak ingat?” Adik Tera menatap kakaknya dengan tatapan tidak percaya. “Kau yang menulisnya sendiri tapi kau tidak ingat, lain kali jangan lupa menaruh hidungmu dengan benar, kalau tidak ... ya aku tidak tau apa yang terjadi, hahahaha.” Ia pergi dengan tawa bersamanya.
Tera melongok. Seli kembali menghela napas kesal.
Namun, kenapa anak laki-laki yang menjadi tersangka utama tahu kertas itu? Apa yang terjadi waktu itu saat Tera menulisnya? Kenapa kertas itu bisa ada di lokernya? Atau rentetan pertanyaan lainnya yang mungkin tiada berujung.
Biarlah jadi kenangan dan dunia yang menyimpan rahasianya.[]



pict from : https://photos.hgtv.com/photo/diy-locker-decorating-ideas-for-teens_4
Share:

0 comments:

Post a Comment

Song