CRAP!
Ia tertangkap.
Bright tertangkap telah melewati pagar
pembatas sekolah. Ini adalah keadaan darurat!
Tanpa aba-aba lagi, ia mengerahkan seluruh
tenaganya untuk berlari secepat-cepatnya. Rambutnya beterbangan kesana kemari
saat berlari. Dahinya mulai bercucuran tetes-tetes keringat.
Bruk!
“Awh!!” seru
Bright refleks. Ia menabrak seseorang.
“Maaf.” Pinta
orang itu singkat dan langsung berlari begitu saja, entah kemana.
Bright tidak terlalu memperdulikan hal itu.
Otaknya sedang fokus untuk memikirkan bagaimana caranya untuk meloloskan diri
dari hal yang menurutnya mengerikan –dikejar guru BK. Ia terus berlari tanpa
melihat apa saja yang telah ia lalui.
Bruk!
“Awh!!” teriak Bright keras-keras kedua
kalinya. Sekarang yang ia tabrak adalah sebuah kotak sampah bukan manusia.
“Makanya kalau jalan liat-liat dong, ish!”
ucap Bright kesal kepada kotak sampah yang tidak bersalah yang bahkan tidak
bisa berjalan. Pikirannya tidak bisa berkonsentrasi sejak ia telat tadi. Karena
itu semuanya berjalan tidak mulus.
Akibat teriakannya yang keras, guru BK yang
tadi mengejar Bright telah menemukannya sedang terduduk di dekat kotak sampah
sambil memegangi lututnya yang agak lecet. Ia terlihat seperti anak umur 6
tahun yang jatuh karena sedang belajar menaiki sepeda roda dua. Gadis berambut
coklat itu meringis pelan melihat ulahnya.
Dengan sigap, perempuan paruh baya tersebut
membantunya berdiri dan membawanya menjauh dari tempat itu.
***
“Itu...,” ucapan Bright terputus. Ia tidak
tahu alasan apa yang harus ia pakai. Salahnya sendiri kenapa ia harus melompati
pagar pembatas itu, seharusnya ia tidak usah masuk sekolah saja, pikirnya.
“Ya? Kenapa kau lari sampai lututmu lecet
seperti itu?” Perempuan paruh baya tersebut mengulangi pertanyaannya. Ia telah
selesai mengobati lutut Bright yang lecet.
“Itu...karena saya telat, bu.” Bright menjawab
dengan sangat pelan, hampir seperti berbisik. Untung saja, guru BK
mendengarnya.
“Baiklah, tak apa. Kau murid baru, bukan? Ayo
ibu antar ke ruang kepala sekolah.” Ucap Bu Reni–nama guru itu–dengan nada
ramah, lantas ia menyunggingkan senyum kepada Bright.
Sementara, Bright hanya menganggukan kepala
patuh dan mengikuti kemana guru itu membawanya.

0 comments:
Post a Comment