Wednesday, March 14, 2018

Chapter 2 Astrophobia


CRAP!
Ia tertangkap.


Bright tertangkap telah melewati pagar pembatas sekolah. Ini adalah keadaan darurat!
Tanpa aba-aba lagi, ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari secepat-cepatnya. Rambutnya beterbangan kesana kemari saat berlari. Dahinya mulai bercucuran tetes-tetes keringat.
Bruk!
“Awh!!” seru Bright refleks. Ia menabrak seseorang.
“Maaf.” Pinta orang itu singkat dan langsung berlari begitu saja, entah kemana.
Bright tidak terlalu memperdulikan hal itu. Otaknya sedang fokus untuk memikirkan bagaimana caranya untuk meloloskan diri dari hal yang menurutnya mengerikan –dikejar guru BK. Ia terus berlari tanpa melihat apa saja yang telah ia lalui.
Bruk!
“Awh!!” teriak Bright keras-keras kedua kalinya. Sekarang yang ia tabrak adalah sebuah kotak sampah bukan manusia.
“Makanya kalau jalan liat-liat dong, ish!” ucap Bright kesal kepada kotak sampah yang tidak bersalah yang bahkan tidak bisa berjalan. Pikirannya tidak bisa berkonsentrasi sejak ia telat tadi. Karena itu semuanya berjalan tidak mulus.
Akibat teriakannya yang keras, guru BK yang tadi mengejar Bright telah menemukannya sedang terduduk di dekat kotak sampah sambil memegangi lututnya yang agak lecet. Ia terlihat seperti anak umur 6 tahun yang jatuh karena sedang belajar menaiki sepeda roda dua. Gadis berambut coklat itu meringis pelan melihat ulahnya.
Dengan sigap, perempuan paruh baya tersebut membantunya berdiri dan membawanya menjauh dari tempat itu.
***

“Itu...,” ucapan Bright terputus. Ia tidak tahu alasan apa yang harus ia pakai. Salahnya sendiri kenapa ia harus melompati pagar pembatas itu, seharusnya ia tidak usah masuk sekolah saja, pikirnya.
“Ya? Kenapa kau lari sampai lututmu lecet seperti itu?” Perempuan paruh baya tersebut mengulangi pertanyaannya. Ia telah selesai mengobati lutut Bright yang lecet.
“Itu...karena saya telat, bu.” Bright menjawab dengan sangat pelan, hampir seperti berbisik. Untung saja, guru BK mendengarnya.
“Baiklah, tak apa. Kau murid baru, bukan? Ayo ibu antar ke ruang kepala sekolah.” Ucap Bu Reni–nama guru itu–dengan nada ramah, lantas ia menyunggingkan senyum kepada Bright.
Sementara, Bright hanya menganggukan kepala patuh dan mengikuti kemana guru itu membawanya.  

pict from : https://www.pinterest.com/pin/329044316509335665/
Share:

0 comments:

Post a Comment

Song