Wednesday, March 14, 2018

Chapter 5 Astrophobia


Bright segera mengerjapkan matanya beberapa kali. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Apakah benar ia menabrak kepala sekolah?  Selang beberapa detik, ia menghela nafas lega. Ternyata yang ditabraknya memang bukan kepala sekolah. Tapi...kenapa ia sangat mirip dengan kepala sekolah?
            Entah sedang beruntung atau tidak, orang yang gadis itu tabrak adalah orang yang sedang dicarinya. Laki-laki itu yang sangat dingin dan aneh. Laki-laki penyelamat hidupnya saat ini. Ah tidak, itu terlalu berlebihan. Yang hanya perlu Bright lakukan sekarang ini adalah meminta laki-laki itu mengantarkan ke ruang kelasnya.
            “Ka...kamu yang tadi kan? Jadi...ruang kelasnya dimana, ya?” ucap Bright terbata-bata. Ini sangat canggung menurutnya.
            “Oke oke baiklah, aku antar kamu ke kelas.” Jawab laki-laki itu. Nada bicaranya sekarang berubah drastis. Sebenarnya apa yang terjadi dengan laki-laki ini?
            Bright dan laki-laki yang tidak diketahui namanya itu kemudian mulai berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas. Laki-laki itu berada di depan memimpin jalan. Tak ada satu kata pun yang terucap antara mereka berdua, entah itu menanyakan nama atau apapun, yang terdengar hanyalah bunyi hentakan kaki dari langkah mereka masing-masing.
            Tak lama kemudian mereka sampai di depan ruangan kelas. Pintunya tertutup rapat tanda pelajaran sudah dimulai sedari tadi. Tugas laki-laki itu telah selesai sampai disini. Ia berbalik badan dan mulai melangkah menjauhi ruang kelas, entah menuju kemana. Bright berdiam diri sebentar, ia sedang berpikir, kenapa laki-laki itu tidak memasuki kelas dan malah pergi?
            “Hey, kamu, kamu gak masuk kelas?” Bright memberanikan diri untuk angkat bicara dan bertanya. Rasa penasarannya lebih besar dibanding rasa takutnya.


            “Gak perlu. Kamu masuk aja sana ke kelas. Belajar yang rajin.” laki-laki itu berjalan berbalik arah menuju Bright, hingga jaraknya cukup dekat, ia mengusak-usak kepala Bright dan berlalu pergi. Jelas Bright tersentak kaget, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia mematung.  Fokus Bright! Ia sempat berbicara dalam hati untuk menyadarkan dirinya sendiri lantas membuka pintu ruang kelas.
***

           
 pict from : https://www.theodysseyonline.com/40-things-wish-knew-in-high-school

Share:

Chapter 4 Astrophobia


      

     
      “Hey!” ucap Bright pelan-pelan. Ia takut mengganggu laki-laki yang sedang menunduk itu. Walaupun sebenarnya Bright pikir laki-laki itu tidak sedang melakukan aktivitas yang sangat penting untuk diganggu.
            “Hey!” panggil Bright kedua kalinya. Kali ini, ia mencoba mengguncangkan pundak laki-laki itu. Cara itu cukup untuk membuat laki-laki itu menoleh dan menatap Bright dengan mata setengah terbuka.
            “Uhm...ada apa? Aku ingin tiduur...,” Laki-laki itu menjawab dengan nada yang terkesan merajuk. Ia terlihat sedikit menggemaskan –jangan lupa untuk menggaris bawahi kata ‘sedikit’. Bright sangat yakin laki-laki itu masih dalam keadaan setengah sadar.
            “Anu...,”
            “Lo... siapa?” laki-laki itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia sudah kembali ke alam sadar sepertinya. Nada bicaranya sangat berbeda dengan yang baru saja Bright dengar saat ia bangun tidur. Menjadi agak mengerikan dan terkesan dingin.
            “Itu...kelas...,” ucapan Bright terbata-bata. Astaga, ia benar-benar tidak terbiasa berbicara dengan orang baru.
            “Astro, segera kau antarkan murid baru ini ke kelasmu. Ini perintah.” Kepala sekolah angkat bicara. Bright berterima kasih untuk itu.
            “Ma-maksudku itu.”
            “Terserah, apa untungnya buat gue.” Ucapannya benar-benar dingin. Lantas laki-laki itu berlalu meninggalkan ruangan. Bright tersentak. Otaknya seketika seperti membeku. Gadis itu sampai-sampai tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
            Bright hanya berdiri mematung hingga kepala sekolah berucap, “Kau, murid baru, ikuti saja anak itu.” Bright menganggukkan kepala, mulutnya seakan terkunci untuk memberikan suara bahkan hanya seperti ‘ya’ atau ‘baiklah’. Ia segera beranjak meninggalkan ruangan.
           
            Bright mengembuskan napas perlahan ketika ia sudah berada di luar ruangan kepala sekolah, ia menutup pintu ruangan dengan hati-hati. Muka Bright sedikit pucat. Satu tambahan lagi, ia tidak terbiasa dengan situasi seperti tadi. Rasanya jantungnya ingin copot saja.
            Sekarang tugasnya adalah mencari laki-laki aneh bin ajaib tadi. Matanya berkeliling mencari-cari laki-laki itu. Ia berharap semoga saja laki-laki itu belum pergi terlalu jauh. Jika iya, maka tamatlah hidup Bright. Oh tenang saja, ia hanya bercanda. Lagipula jika dia tidak ada, lantas siapa yang akan menjadi tokoh utama cerita ini?
            Bright mulai panik beberapa detik berikutnya. Ia masih belum menemukan sosok yang ia cari. Waktu terus berjalan. Derap langkahnya menggema di koridor yang ia lewati. Ia berjalan kesana-kemari untuk menghilangkan rasa gugupnya.
            Bruk!
            “Awh!!” seru Bright untuk ketiga kalinya hari ini di sekolah. Tabrakan ketiga kalinya.
            Bright mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang ia tabrak kali ini. Tunggu...kepala sekolah? Yang ia tabrak adalah kepala sekolah?!         
           
 pict from : https://www.pinterest.com/pin/18788523415209617/

Share:

Chapter 3 Astrophobia


              Bright telah sampai di depan ruang kepala sekolah. Pintu besar bercat putih terpampang jelas di depan gadis itu. Tangannya yang sedikit bergemetaran ia selipkan di saku seragam sekolahnya. Ia mencoba mengatur napasnya secara perlahan.
            “Ayo masuk.” Bu Reni membuka pintu bercat putih tersebut. Mempersilakan Bright masuk untuk bertemu dengan kepala sekolah.


            Bright lantas mengucapkan terimakasih dan melangkahkan kakinya hati-hati ke dalam ruangan. Ia tidak ingin kesan pertamanya dengan kepala sekolah rusak begitu saja. Sejak di jalan menuju ruang kepala sekolah, Bright telah merapihkan penampilannya, membuat kepercayaan dirinya bertambah setidaknya sedikit.
            Ia telah memasuki separuh ruangan besar itu. Dinding dan langit-langit ruangan itu berwarna senada dengan pintu masuknya. Desain interiornya sangat mengikuti zaman. Benar-benar seperti ruangan kerja kantor-kantor perusahaan besar. Tampak nyaman untuk ditempati. Sedang asyik melihat-lihat, sebuah suara menginterupsi gadis berambut coklat itu.
            Bright menolehkan kepalanya. Itu suara kepala sekolah. “Bright Starlynn? Murid baru pindahan dari... USA, bukan?”
            “I...iya, Sir.” Gadis itu tergagap. Ia terlihat sedikit takut. Bukan karena tampang kepala sekolahnya. Tampang kepala sekolahnya tidak terlihat semengerikan yang ia pernah bayangkan ketika sedang terbang menuju Indonesia waktu itu. Rahang yang tegas, hidung mancung, dagu lancip, dan muka yang terlihat agak lelah, mungkin karena terlalu banyak bekerja. Bright akui kepala sekolahnya terlihat cukup tampan, ia lebih cocok untuk menjadi pengusaha muda ketimbang kepala sekolah.
            “Tenang saja. Tidak perlu takut, Nak,” ucap kepala sekolah itu seakan tahu isi pikiran Bright.
            “Seseorang dari perusaan ayahmu telah mengurus seluruh hal menyangkut kepindahanmu. Kau bisa langsung masuk kelas dan mulai belajar. Lihat anak di sebelah sana? Kau bisa tanya anak itu, ia sekelas denganmu.” Pria itu menunjuk kepada anak laki-laki yang tengah duduk di sofa sambil menunduk. Bright bahkan tidak menyadari keberadaan laki-laki itu sejak ia pertama masuk dan melihat-lihat.
Ia berjalan menghampiri laki-laki itu.

pict from : https://www.tumblr.com/tagged/London-doors
Share:

Chapter 2 Astrophobia


CRAP!
Ia tertangkap.


Bright tertangkap telah melewati pagar pembatas sekolah. Ini adalah keadaan darurat!
Tanpa aba-aba lagi, ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari secepat-cepatnya. Rambutnya beterbangan kesana kemari saat berlari. Dahinya mulai bercucuran tetes-tetes keringat.
Bruk!
“Awh!!” seru Bright refleks. Ia menabrak seseorang.
“Maaf.” Pinta orang itu singkat dan langsung berlari begitu saja, entah kemana.
Bright tidak terlalu memperdulikan hal itu. Otaknya sedang fokus untuk memikirkan bagaimana caranya untuk meloloskan diri dari hal yang menurutnya mengerikan –dikejar guru BK. Ia terus berlari tanpa melihat apa saja yang telah ia lalui.
Bruk!
“Awh!!” teriak Bright keras-keras kedua kalinya. Sekarang yang ia tabrak adalah sebuah kotak sampah bukan manusia.
“Makanya kalau jalan liat-liat dong, ish!” ucap Bright kesal kepada kotak sampah yang tidak bersalah yang bahkan tidak bisa berjalan. Pikirannya tidak bisa berkonsentrasi sejak ia telat tadi. Karena itu semuanya berjalan tidak mulus.
Akibat teriakannya yang keras, guru BK yang tadi mengejar Bright telah menemukannya sedang terduduk di dekat kotak sampah sambil memegangi lututnya yang agak lecet. Ia terlihat seperti anak umur 6 tahun yang jatuh karena sedang belajar menaiki sepeda roda dua. Gadis berambut coklat itu meringis pelan melihat ulahnya.
Dengan sigap, perempuan paruh baya tersebut membantunya berdiri dan membawanya menjauh dari tempat itu.
***

“Itu...,” ucapan Bright terputus. Ia tidak tahu alasan apa yang harus ia pakai. Salahnya sendiri kenapa ia harus melompati pagar pembatas itu, seharusnya ia tidak usah masuk sekolah saja, pikirnya.
“Ya? Kenapa kau lari sampai lututmu lecet seperti itu?” Perempuan paruh baya tersebut mengulangi pertanyaannya. Ia telah selesai mengobati lutut Bright yang lecet.
“Itu...karena saya telat, bu.” Bright menjawab dengan sangat pelan, hampir seperti berbisik. Untung saja, guru BK mendengarnya.
“Baiklah, tak apa. Kau murid baru, bukan? Ayo ibu antar ke ruang kepala sekolah.” Ucap Bu Reni–nama guru itu–dengan nada ramah, lantas ia menyunggingkan senyum kepada Bright.
Sementara, Bright hanya menganggukan kepala patuh dan mengikuti kemana guru itu membawanya.  

pict from : https://www.pinterest.com/pin/329044316509335665/
Share:

Chapter 1 Astrophobia

Satu langkah...
Dua langkah...
Melewati langkah ketiganya, gadis itu menghela napas. Ia gugup. Sejak tadi, pikirannya terus melayang membayangkan hal mengerikan macam apa yang akan terjadi nanti. Kakinya ia hentakkan kuat-kuat untuk menghilangkan rasa gugupnya. Selang beberapa menit, ia kembali menghela napas. Kini, diseberangnya telah berdiri bangunan bercat salem yang disebut sekolah.

***

Menjadi siswa baru bukanlah hal besar. Tapi, bagi seorang Bright Starlynn, ini adalah hal yang luar biasa mengerikan. Sedikit berlebihan memang, karena jujur saja, ia belum pernah merasakan bersekolah di negeri kelahirannya –Indonesia. Semua terasa baru untuknya.
Ia cepat-cepat mengusir lamunannya, kembali ke alam sadar. Yang harus ia lakukan sekarang ini adalah menyebrangi jalan untuk tepat masuk ke sekolah barunya. Namun, yang sedari tadi ia lakukan hanyalah menatap lekat-lekat gedung sekolah itu hingga membuat orang yang melintas didepannya agak merasa risih. Mungkin, ia pikir jika ia terus melototi gedung itu, gedungnya akan tiba-tiba runtuh dan ya...ia tidak akan sekolah hari ini.
Kring...kring... bel sekolah tanda masuk berbunyi.
Bel yang memekakkan telinga itu terdengar hingga tempat Bright berdiri. Ia berpikir sejenak, agak melamun dan masih belum beranjak dari tempatnya sama sekali.
Tak butuh waktu lama, ia kembali tersadar dari lamunan keduanya. Dengan segera, ia melambaikan tangannya supaya mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang berhenti agar ia dapat menyeberang jalan dengan leluasa.
Hingga ia selesai menyeberang, pak satpam sekolah sudah menutup pintu gerbang yang sangat besar itu, penuh tanpa cela untuk bisa dilewati sedikit pun.
Sial. Ia terlambat di hari pertamanya sekolah.



pict from : https://www.tumblr.com/tagged/beige-architecture

Share:

Sinopsis Astrophobia



Keduanya memiliki satu kesamaan dan satu perbedaan.
Kesamaan itulah yang membuat mereka dekat. Tapi saat itu, mereka belum menyadari perbedaan yang mereka miliki. Disaat perbedaan itu terungkap, akankah mereka bertahan?
Atau saling menjauhi?
Ataukah itu yang membuat mereka semakin dekat?
Bagaimana cara mereka untuk melalui itu semua?
Rentetan pertanyaan telah tersedia, jawabannya hanya akan ditemukan ketika semuanya telah dilewati bukan?


pict from : http://climaxstudios.net/group/Galaxy-Sky-Wallpapers-Group/

Share:

Tersangka


Entah dimana ia menaruhnya kali ini. Sering sekali ini terjadi. Barang-barang miliknya tak jarang berakhir dengan naas, tidak ditemukan dimana-dimana, dengan alasan ia lupa menaruhnya. Mungkin memang karena ingatannya yang tidak terlalu bagus dan memang kebiasaan.
Pagi ini, seluruh isi rumah dibuat repot akibat kebiasaan sang anak sulung itu. Ia lupa menaruh sepatunya. Alhasil, semuanya ikut mondar-mandir membantunya untuk mencari sepatunya karena sebentar lagi juga ia akan berangkat ke sekolah. Mau tak mau, adik, ibu, dan, ayahnya merasa tidak tega untuk membiarkan sang anak sulung terlambat datang ke sekolah.
“Aish, di mana kau sepatuku yang malang?” gumam Tera-nama sang anak sulung- sambil membersihkan hidungnya yang terkena debu akibat gumpalan-gumpalannya di pinggiran rak sepatu saat sedang mencari. Tidak menemukannya di sana, lantas ia beranjak ke luar rumah, untuk mencari pencerahan di mana sepatunya berada,
Taman yang indah nan cantik berada di sayap kiri rumahnya dan di bagian kanannya sendiri terdapat garasi terbuka berisi satu mobil yang masih terparkir. Tiba-tiba saja, terbesit ingatan di pikirannya jika mungkin saja sepatunya berada di kolong mobil. Mungkin hal yang mustahil, tapi refleks kepalanya menunduk untuk melihat bagian bawah mobil dan sepersekian detik mengangkatnya lagi. Tunggu...sepertinya ia melihat sesuatu. Kepalanya menunduk lagi, dan mulutnya terbuka lebar secara perlahan. Ia telah menemukan sepatunya.
***

“Teraaa ....,” panggil seorang  gadis yang sebaya dengannya.
Mereka bertemu dan bertos-ria tanda persahabatan.
“Kau datang lebih lambat dari biasanya, tapi bukan berarti kau setiap hari datang cepat juga. Hmm ... biar kutebak, kau datang lebih lambat pasti karena ... kau lupa lagi, bukan?” ujar gadis itu diiringi kekehan kecil. Ia sudah hafal betul kebiasaan unik sahabatnya ini.
“Ya, kali ini aku lupa menaruh sepatuku. Coba tebak di mana aku menemukannya, di kolong mobil! Aku tidak percaya, aku bisa melemparnya sampai ke sana sehabis pulang sekolah kemarin.” Ia dan sahabatnya terus mengobrol diiringi canda tawa sambil berjalan menuju loker. Di sekolah ini, setiap masing-masing siswa diberi satu loker sebagai tempat penyimpanan alat-alat sekolahnya seperti, antara lain; buku, sepatu, baju ganti, dan lain-lain. Kebetulan dua sejoli itu mendapat loker yang bersebelahan.

Mendengar bel sekolah yang berbunyi, Tara bergegas mengambil buku-bukunya dan menutup loker dengan agak kasar. Sebuah kertas kecil tiba-tiba melayang keluar ketika ia menutup lokernya tersebut. Karena buru-buru, ia mengambil kertas itu dan menggenggamnya sembari berlari menuju kelas yang sama dengan sahabatnya.

Kelas terakhir sudah berlalu. Kini waktunya mereka kembali ke rumah. Liburan semesteran sudah dimulai sejak detik ini juga. Lagi-lagi sembari berjalan, Tera dengan sahabatnya, Seli, kembali bertukar cerita. Tak terhitung sudah keberapa kalinya cerita itu dibahas mereka. Namun, mungkin itulah yang membuat mereka tetap bersama sampai tujuh tahun lamanya.
“Hei, tadi aku mendapat sebuah kertas di lokerku,” kali ini Tera mulai menceritakan kertas yang ditemuinya tadi di loker saat buru-buru pergi ke kelas, “aku tidak tahu siapa yang menaruhnya tapi isinya ....” ucapannya terputus karena sebuah suara mengganggunya.
“Hei, badan besar!” seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi taman mengejek Tera. Ia adalah teman sekelas Tera. Kelakuannya sungguh tidak bisa dibilang sebagai teman. Tera adalah salah satu yang menjadi bahannya karena tubuh Tera yang gendut.
“Udah, biarin aja dia, Tera,” ucap Seli sambil menurunkan kepalan tangan Tera yang mengepal sempurna. “Jadi, apa isi kertas itu?” tanyanya kembali melanjutkan obrolan yang sempat  terhenti.
“Sebenarnya, tidak terlalu penting tapi ... hei, aku sudah dijemput! Sampai jumpa kembali di tahun ajaran mendatang!”
Tiba di rumah, Tera merebahkan dirinya di ranjang kecil miliknya. Ia menatap lamat-lamat kertas yang sedang dipegangnya. Matanya hampir tak berkedip dan seluruh pikirannya terfokuskan kepada isi yang ada di kertas itu. Seolah tersihir, ia ingin mencoba melakukan apa yang kertas itu tuliskan.
***

1 bulan kemudian...
Liburan sekolah telah berakhir. Hari yang ditunggu-tunggu sudah datang. Tak sabar bertemu kembali dengan semua jenis manusia di sekolah. Begitu juga dengan Tera, ia rindu dengan sekolah, guru-guru ataupun teman-teman sekelasnya, tak terkecuali dengan Seli.
Tera menapakkan kakinya melewati gerbang sekolah. Sebelum itu terjadi, Seli yang memang langganan untuk datang cepat ke sekolah meneriakkan namanya keras-keras. Semua orang yang berada di tempat kejadian lantas menoleh sebentar melihat apa yang terjadi dan kemudian kembali tak acuh.
“Seliii!” Tera menjawab teriakan Seli. Mereka melepas rindu dengan melakukan tos persahabatan, menari-nari tidak jelas, dan entah apa lagi, yang penting rindu di hati sudah tidak lagi bersarang.   
“Hmm ... bisakah kalian menyingkir? Kalian merusak pemandangan, ckck.  Kau, Tera, yah ... waw, kau berubah, benar-benar berubah. Tidak bisa dipercaya,” ucap teman sekelas Tera yang sering mengatainya ‘badan besar’, ia sedari tadi duduk di sana dan secara tidak sengaja memerhatikan acara lepas-rindu-antar-sahabat.
“Apaan kau ini!? Pagi-pagi sudah bikin emosi saja. Tunggu ... apa maksudmu berubah?” Seli memandangku heran dan perlahan matanya membulat kaget. “Astaga Tera! Apa kau diet atau semacamnya? Waw, dan itu hanya dalam satu bulan, super sekali. Kali ini kau benar, bung!” Seli mengacungkan jempolnya kepada anak laki-laki itu.
“Aku memang selalu benar,” ucap laki-laki itu membanggakan dirinya sendiri dan beranjak pergi.

“Jadi, bagaimana bisa kau berubah secepat ini?” tanya Seli kepada Tera ketika bel istirahat telah dibunyikan. Seli memang sudah sedari tadi ingin merecoki Tera dengan deretan pertanyaan, tapi terhalang oleh pelajaran Matematika yang tidak ia sukai. Minggu kemarin, nilai matematikanya benar-benar buruk, jadi ia terpaksa memperhatikannya dengan baik.
“Diet,” jawab Tera singkat.
“Lalu, kenapa kau diet?” Pertanyaan kedua yang dilontarkan Seli.
“Kau tahu... Tiba-tiba, aku ingin melakukannya ketika melihat kertas itu. Ini aneh, aku bahkan tidak tahu siapa yang menulisnya.”  Tera sedikit berbisik.
“Hm...aku lumayan pandai dalam tebak-tebakan. Biarkan aku berpikir sebentar,” Seli menopang dagunya dan sebelah tangannya lagi dibuat untuk mengelus-elus pelipisnya, katanya.  “Tunggu ... apa itu kau yang menulisnya?”
Tera melihat sudut pandang Seli yang menghadap lurus, tepat ke arah pintu kelas. Itu berarti ... dia bertanya pada anak laki-laki yang sering mengejeknya gendut. Tera berfikir, mana mungkin anak itu yang menulisnya. Dia sering mengejek Tera, tapi bahkan teman sekelasnya yang lain tidak pernah mengejeknya. Kesimpulannya, hanya dia yang mengejek Tera. Jadi, kemungkin besar ... diakah pelakunya?
“Oh...kertas itu, aku tidak...bukan aku-“
Pertanyaan Seli terputus oleh bel masuk. Mungkin akan dilanjutkan nanti sehabis pulang sekolah ... atau tiga hari berikutnya?
Sudah tiga hari berlalu, anak laki-laki itu belum menjawab pertanyaan Seli. Ia selalu saja dapat menghindar dan juga selalu saja ada halangannya. Namun, untuk Seli, ia belum menyerah, ini menarik dan harus dipecahkan.
“Hey, kau belum menjawab pertanyaanku! Mau ke mana kau!?” Seli menghela napas kesal. Anak itu kabur lagi dan pertanyaannya akan ditunda kembali.
“Permisi ... apa ini kelas kakakku?” Suara seorang perempuan tiba-tiba datang menginterupsi Seli.
Itu suara adik Tera. Setahu Tera, adiknya tidak pernah mau masuk ke kelasnya. Mungkin ini sangat mendesak, pikir Tera.
“Ada apa?” tanya Tera santai. Ia sedang menikmati istirahatnya dengan novel di tangannya.
“Buku PR-ku, tertukar dengan milikmu.”
“Ambil saja di tasku,” kata Tera, tidak beranjak sedikit pun.
Sambil menggerutu, adik Tera mengambil tas kakaknya dan mengobrak-abrik isinya.
“Hei, kau masih menyimpan kertas ini!” pekik adiknya tiba-tiba. Tera kaget dan melihat apa yang adiknya bicarakan. Kertas itu. Kertas yang sudah beberapa hari ini menjadi buah bibir antara Tera dan Seli. Apa yang adiknya ketahui tentang kertas itu?
“Kenapa dengan kertas itu?” Seli yang terlihat masih kesal.
“Maksudnya? Bukankah kakakku sendiri yang menulisnya? Ia tidak ingat?” Adik Tera menatap kakaknya dengan tatapan tidak percaya. “Kau yang menulisnya sendiri tapi kau tidak ingat, lain kali jangan lupa menaruh hidungmu dengan benar, kalau tidak ... ya aku tidak tau apa yang terjadi, hahahaha.” Ia pergi dengan tawa bersamanya.
Tera melongok. Seli kembali menghela napas kesal.
Namun, kenapa anak laki-laki yang menjadi tersangka utama tahu kertas itu? Apa yang terjadi waktu itu saat Tera menulisnya? Kenapa kertas itu bisa ada di lokernya? Atau rentetan pertanyaan lainnya yang mungkin tiada berujung.
Biarlah jadi kenangan dan dunia yang menyimpan rahasianya.[]



pict from : https://photos.hgtv.com/photo/diy-locker-decorating-ideas-for-teens_4
Share:

Saturday, January 20, 2018

Aku, Dia, dan Waktu



Gerombolan siswa berhamburan keluar dari masing-masing kelasnya. Bel istirahat baru saja berbunyi. Namun, terlihat di pojok ruang kelasnya, seorang siswi hanya duduk dan asyik dengan handphone-nya. Dia sedang sangat sangat bahagia. Kenapa? Well, dia baru saja dikirimi foto crush-nya oleh seseorang. Oke, mari kita lihat siapa siswi satu ini.
Namanya Seira Andriani, biasa dipanggil Sera atau Ira, tapi dia lebih suka dipanggil Ra. Kenapa? Entah dia juga tidak tahu. Jelek, hitam, jerawatan, pendek, kacamata tebal, itulah deskripsi yang biasa dia buat untuk dirinya sendiri. Dia sebenarnya mempunyai bulu mata yang lentik, sangat, tapi dia bilang itu tidak berguna karena sudah tertutupi kacamata tebalnya. Oh, satu lagi, dia sedang menyukai seseorang. Tampan, pintar, keren, ketua OSIS, ketua kelas, tinggi, putih, alim, dan baik, itulah deskripsi yang orang-orang buat untuk gebetan Sera.
Waktu itu, Sera terlambat datang ke sekolah, dengan semangat yang membara karena takut ketahuan guru BP, dia berlari kencang melewati pagar sekolah yang hampir tertutup. Dia lolos dari guru BP, tapi tidak terlalu beruntung karena tiba-tiba dia telah menabrak seseorang. Orang yang dia tabrak... berakhir jatuh ke kolam ikan. Sera mencoba menolongnya, dan di saat itulah pandangan mereka bertemu. Bola mata laki-laki itu berwarna coklat muda terkena paparan sinar mentari pagi, hidungnya yang mancung, dan wajahnya terlihat sangat... sempurna.
Sial, mengapa di saat itu dia masih sempat mengaguminya bukan malah menolongnya?
Dia juga masih ingat saat mereka pertama kali berbicara, “Kamu... gak papa?” Tanyanya.
Aku gak papa, tenang. Kamu duluan aja, aku mau ganti baju.” Ucap laki-laki itu lembut. “Ma... maaf.” Sera lantas pergi meninggalkan laki-laki itu yang masih basah kuyup.
Untuk pertama kalinya, jantung Sera seakan berhenti berdetak, dan waktu seakan berhenti berputar.
Sera selalu tidak percaya diri dengan penampilannya. Dia tidak cantik ataupun terkenal, dia hanya gadis biasa yang kebetulan bisa berada di kelas unggulan yang sama dengan gebetan­-nya, atau biasa disebut dia sedang hoki saat pembagian kelas. Menurutnya juga, dia tidak sebanding dengan laki-laki itu. Laki-laki itu berada sangat dekat karena merupakan teman sekelasnya, tapi sangat jauh untuk digapai.
“Ser, kamu enggak ke kantin?” Teman sebangku Sera menempati tempatnya dan bertanya.
Sera segera tersadar dari lamunannya sesaat dan kembali lagi asik dengan dunianya.
“Serrrr.... gurunya udah dateng.”
Barulah, dia tersadar penuh. Dengan cepat, dia mematikan handphone­-nya dan kembali fokus, saatnya belajar untuk masa depan. Dia tidak lupa bahwa dia masih memiliki kesempatan untuk masa depan yang cerah bukan hanya terpaku untuk cinta sebelah tangannya.
“Aku lihat tadi, kamu lagi ngeliatin foto Ari, ya?”
Sera menoleh dan cengar-cengir tidak jelas.
Kring...
“Ser, aku duluan, ya. Mau les, see you besok!”
Bel terakhir sudah berbunyi, waktunya kembali ke rumah. Waktu belajar Sera tinggal seminggu lagi menuju ujian kelulusan. Ia sepertinya harus berusaha keras untuk mendapat nilai yang lumayan. Bukan untuk menunjukkannya pada Ari, orang yang dia sukai, tapi untuk dirinya sendiri. Keputusannya sudah bulat, dia akan belajar keras dan melupakan Ari sementara untuk fokus pada masa depannya.


Beberapa tahun berlalu, Sera mengalami perubahan. Putih, cantik, pintar, bulu mata yang lentik dan bisa dibilang lumayan terkenal. Perpaduan yang sempurna. Deskripsi yang dia gunakan untuk dirinya dulu sebenarnya masih sama. Namun, hanya anggapan orang-orang yang berbeda. Dia juga tidak peduli dengan anggapan orang.
Kini, dia sedang menyesap kopi di sebuah kedai kopi. Dengan sebuah laptop di hadapannya, menyelesaikan pekerjaannya untuk mengirim sebuah rancangan fashion yang baru saja dia buat ke perusahaan ternama tempatnya bekerja. Tidak lama mengirimkannya, dia sudah selesai. Hey, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Sesuatu yang membuatnya berubah sepesat ini.
Saat itu perpisahan sekolah tengah berjalan. Sera yang tidak terbiasa memakai segala jenis kebaya dan embel-embelnya serta high heels harus berjalan menuju panggung sekolah. Kenapa? Well, dia mendapat peringkat pertama peraih nilai ujian tertinggi di sekolahnya. Siapa yang menyangka dia sedang hoki? Oh, bukan, dia hanya bekerja keras.
Dan peraih nilai ujian tertinggi kedua diberikan kepada... Ari Arsenio Adrian! Berikan tepuk tangan yang meriah dan kepada saudara diharapkan maju ke atas panggung menempati posisi yang telah disediakan.” Ucap MC di acara itu.
Sera terkejut. Bukan karena Ari yang mendapat peringat dua di bawahnya, bukan. Itu karena Tara, teman sekelasnya yang juga merupakan teman sekelas Ari, memeluk Ari. Sungguh, pemandangan itu membuatnya hatinya agak terluka. Ralat, hatinya sangat terluka. Senang dan sedih di saat yang bersamaan. Dia senang karena mendapat hasil kerja kerasnya dan dia terluka melihat pemandangan itu. Rasanya dia ingin pulang ke rumahnya saja dan membenamkan wajahnya di bantal, menangis.
Selamat, ya, Ra. Aku gak nyangka kamu sepintar ini, hehe.” Ucap Ari begitu maju ke panggung dan berdiri di sebelah Sera. Inilah kedua kalinya mereka berbicara selama tiga tahun. Suaranya masih terdengar seperti dahulu saat pertama kali, lembut dan menyejukkan hati. Namun, kenapa rasanya hati Sera masih sakit bahkan ketika dia mendengar suara itu menyapanya?
Sera hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Sejak kejadian itu, dia tidak pernah memikirkan Ari lagi.
Tunggu... jadi kenapa sekarang dia malah membuka kembali memori lama itu!?
Krieett... pintu masuk kedai kopi tersebut dibuka oleh seseorang. Seorang pria berjaket kulit dengan kacamata hitam serta sneaker putih masuk ke dalam. Pria itu melihat sekitarnya lantas berjalan menuju sebuah meja dan akhirnya berhenti di satu meja. Sera yang sedang memandangi tingkah laku pria itu terkejut karena pria itu tiba-tiba berhenti tepat di mejanya lalu memandanginya. Pandangan mereka kembali bertemu, mata coklat itu dan hidungnya serta wajahnya, masih sama seperti dahulu.
“Ra? Ini kamu?” Tanyanya sambil menduduki tempat di depan Sera. Sera mengedipkan matanya sekali, dua kali, dan ketiga kalinya dia tersadar.
“Iya. Ka... kamu Ari?”
“Iya, aku Ari. Ari Arsenio Adrian. Teman sekelas kamu dulu. Kalau tidak salah, aku juga bos kamu di perusahaan kamu kerja, bukan?”
“Iya ya? Hehehe.” Sera baru teringat dia mempunyai direktur di perusahaan tempatnya bekerja yang bernama Ari.
“Kamu sendiri di sini?”
“Iya. Kamu? Seingat aku, Tara sama kamu... kalian...?” Sera mencoba mengingat kenangan menyakitkan itu dan bertanya fakta di balik semuanya.
“Oh, itu, Tara itu adik kandung aku. Sebenarnya kita kembar, gak mirip ya? Hahaha...”
“Iya, sih. Jadi, ternyata begitu...”
Inilah pembicaraan ketiga kalinya dari mereka, dan sepertinya akan terus berlanjut entah hingga keberapa kalinya. Pembicaraan itu mengalir begitu saja. Tentang masa-masa mereka dahulu, teman-teman sekelas mereka, dan Ari yang dulu juga menyukainya.
Otak Sera seperti berhenti berfungsi, sekujur tubuhnya serasa kaku, rindu yang tidak tertahankan dan penantiannya yang berharga. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Biarlah waktu tetap berputar saat ini dan bumi tetap berotasi di sekeliling mereka yang sedang membuka kenangan atau bahkan merajut masa depan?



 pict from : WeHeartIt
 song that fits this story is hereee!

Share:

Song