Satu langkah...
Dua langkah...
Melewati langkah ketiganya, gadis itu menghela
napas. Ia gugup. Sejak tadi, pikirannya terus melayang membayangkan hal
mengerikan macam apa yang akan terjadi nanti. Kakinya ia hentakkan kuat-kuat
untuk menghilangkan rasa gugupnya. Selang beberapa menit, ia kembali menghela
napas. Kini, diseberangnya telah berdiri bangunan bercat salem yang disebut
sekolah.
***
Menjadi siswa baru bukanlah hal besar. Tapi,
bagi seorang Bright Starlynn, ini adalah hal yang luar biasa mengerikan.
Sedikit berlebihan memang, karena jujur saja, ia belum pernah merasakan
bersekolah di negeri kelahirannya –Indonesia. Semua terasa baru untuknya.
Ia cepat-cepat mengusir lamunannya, kembali ke
alam sadar. Yang harus ia lakukan sekarang ini adalah menyebrangi jalan untuk
tepat masuk ke sekolah barunya. Namun, yang sedari tadi ia lakukan hanyalah
menatap lekat-lekat gedung sekolah itu hingga membuat orang yang melintas
didepannya agak merasa risih. Mungkin, ia pikir jika ia terus melototi gedung
itu, gedungnya akan tiba-tiba runtuh dan ya...ia tidak akan sekolah hari ini.
Kring...kring... bel sekolah tanda masuk berbunyi.
Bel yang memekakkan telinga itu terdengar
hingga tempat Bright berdiri. Ia berpikir sejenak, agak melamun dan masih belum
beranjak dari tempatnya sama sekali.
Tak butuh waktu lama, ia kembali tersadar dari
lamunan keduanya. Dengan segera, ia melambaikan tangannya supaya mobil-mobil
yang sedang berlalu-lalang berhenti agar ia dapat menyeberang jalan dengan
leluasa.
Hingga ia selesai menyeberang, pak satpam sekolah
sudah menutup pintu gerbang yang sangat besar itu, penuh tanpa cela untuk bisa
dilewati sedikit pun.
Sial. Ia terlambat di hari pertamanya sekolah.
pict from : https://www.tumblr.com/tagged/beige-architecture

0 comments:
Post a Comment