Wednesday, March 14, 2018

Chapter 3 Astrophobia


              Bright telah sampai di depan ruang kepala sekolah. Pintu besar bercat putih terpampang jelas di depan gadis itu. Tangannya yang sedikit bergemetaran ia selipkan di saku seragam sekolahnya. Ia mencoba mengatur napasnya secara perlahan.
            “Ayo masuk.” Bu Reni membuka pintu bercat putih tersebut. Mempersilakan Bright masuk untuk bertemu dengan kepala sekolah.


            Bright lantas mengucapkan terimakasih dan melangkahkan kakinya hati-hati ke dalam ruangan. Ia tidak ingin kesan pertamanya dengan kepala sekolah rusak begitu saja. Sejak di jalan menuju ruang kepala sekolah, Bright telah merapihkan penampilannya, membuat kepercayaan dirinya bertambah setidaknya sedikit.
            Ia telah memasuki separuh ruangan besar itu. Dinding dan langit-langit ruangan itu berwarna senada dengan pintu masuknya. Desain interiornya sangat mengikuti zaman. Benar-benar seperti ruangan kerja kantor-kantor perusahaan besar. Tampak nyaman untuk ditempati. Sedang asyik melihat-lihat, sebuah suara menginterupsi gadis berambut coklat itu.
            Bright menolehkan kepalanya. Itu suara kepala sekolah. “Bright Starlynn? Murid baru pindahan dari... USA, bukan?”
            “I...iya, Sir.” Gadis itu tergagap. Ia terlihat sedikit takut. Bukan karena tampang kepala sekolahnya. Tampang kepala sekolahnya tidak terlihat semengerikan yang ia pernah bayangkan ketika sedang terbang menuju Indonesia waktu itu. Rahang yang tegas, hidung mancung, dagu lancip, dan muka yang terlihat agak lelah, mungkin karena terlalu banyak bekerja. Bright akui kepala sekolahnya terlihat cukup tampan, ia lebih cocok untuk menjadi pengusaha muda ketimbang kepala sekolah.
            “Tenang saja. Tidak perlu takut, Nak,” ucap kepala sekolah itu seakan tahu isi pikiran Bright.
            “Seseorang dari perusaan ayahmu telah mengurus seluruh hal menyangkut kepindahanmu. Kau bisa langsung masuk kelas dan mulai belajar. Lihat anak di sebelah sana? Kau bisa tanya anak itu, ia sekelas denganmu.” Pria itu menunjuk kepada anak laki-laki yang tengah duduk di sofa sambil menunduk. Bright bahkan tidak menyadari keberadaan laki-laki itu sejak ia pertama masuk dan melihat-lihat.
Ia berjalan menghampiri laki-laki itu.

pict from : https://www.tumblr.com/tagged/London-doors
Share:

0 comments:

Post a Comment

Song