Bright telah sampai di depan ruang kepala sekolah. Pintu
besar bercat putih terpampang jelas di depan gadis itu. Tangannya yang sedikit
bergemetaran ia selipkan di saku seragam sekolahnya. Ia mencoba mengatur
napasnya secara perlahan.
“Ayo
masuk.” Bu Reni membuka pintu bercat putih tersebut. Mempersilakan Bright masuk
untuk bertemu dengan kepala sekolah.
Bright
lantas mengucapkan terimakasih dan melangkahkan kakinya hati-hati ke dalam
ruangan. Ia tidak ingin kesan pertamanya dengan kepala sekolah rusak begitu
saja. Sejak di jalan menuju ruang kepala sekolah, Bright telah merapihkan
penampilannya, membuat kepercayaan dirinya bertambah setidaknya sedikit.
Ia telah
memasuki separuh ruangan besar itu. Dinding dan langit-langit ruangan itu
berwarna senada dengan pintu masuknya. Desain interiornya sangat mengikuti
zaman. Benar-benar seperti ruangan kerja kantor-kantor perusahaan besar. Tampak
nyaman untuk ditempati. Sedang asyik melihat-lihat, sebuah suara menginterupsi
gadis berambut coklat itu.
Bright
menolehkan kepalanya. Itu suara kepala sekolah. “Bright Starlynn? Murid baru
pindahan dari... USA, bukan?”
“I...iya,
Sir.” Gadis itu tergagap. Ia terlihat sedikit takut. Bukan karena tampang
kepala sekolahnya. Tampang kepala sekolahnya tidak terlihat semengerikan yang
ia pernah bayangkan ketika sedang terbang menuju Indonesia waktu itu. Rahang
yang tegas, hidung mancung, dagu lancip, dan muka yang terlihat agak lelah,
mungkin karena terlalu banyak bekerja. Bright akui kepala sekolahnya terlihat
cukup tampan, ia lebih cocok untuk menjadi pengusaha muda ketimbang kepala
sekolah.
“Tenang
saja. Tidak perlu takut, Nak,” ucap kepala sekolah itu seakan tahu isi pikiran
Bright.
“Seseorang
dari perusaan ayahmu telah mengurus seluruh hal menyangkut kepindahanmu. Kau
bisa langsung masuk kelas dan mulai belajar. Lihat anak di sebelah sana? Kau
bisa tanya anak itu, ia sekelas denganmu.” Pria itu menunjuk kepada anak
laki-laki yang tengah duduk di sofa sambil menunduk. Bright bahkan tidak
menyadari keberadaan laki-laki itu sejak ia pertama masuk dan melihat-lihat.
Ia berjalan menghampiri laki-laki itu.

0 comments:
Post a Comment