“Hey!” ucap Bright pelan-pelan. Ia takut mengganggu
laki-laki yang sedang menunduk itu. Walaupun sebenarnya Bright pikir laki-laki
itu tidak sedang melakukan aktivitas yang sangat penting untuk diganggu.
“Hey!”
panggil Bright kedua kalinya. Kali ini, ia mencoba mengguncangkan pundak
laki-laki itu. Cara itu cukup untuk membuat laki-laki itu menoleh dan menatap
Bright dengan mata setengah terbuka.
“Uhm...ada
apa? Aku ingin tiduur...,” Laki-laki itu menjawab dengan nada yang terkesan merajuk.
Ia terlihat sedikit menggemaskan –jangan lupa untuk menggaris bawahi kata
‘sedikit’. Bright sangat yakin laki-laki itu masih dalam keadaan setengah
sadar.
“Anu...,”
“Lo...
siapa?” laki-laki itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia sudah kembali ke
alam sadar sepertinya. Nada bicaranya sangat berbeda dengan yang baru saja
Bright dengar saat ia bangun tidur. Menjadi agak mengerikan dan terkesan
dingin.
“Itu...kelas...,”
ucapan Bright terbata-bata. Astaga, ia benar-benar tidak terbiasa berbicara dengan
orang baru.
“Astro,
segera kau antarkan murid baru ini ke kelasmu. Ini perintah.” Kepala sekolah
angkat bicara. Bright berterima kasih untuk itu.
“Ma-maksudku
itu.”
“Terserah,
apa untungnya buat gue.” Ucapannya benar-benar dingin. Lantas laki-laki itu
berlalu meninggalkan ruangan. Bright tersentak. Otaknya seketika seperti
membeku. Gadis itu sampai-sampai tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Bright
hanya berdiri mematung hingga kepala sekolah berucap, “Kau, murid baru, ikuti
saja anak itu.” Bright menganggukkan kepala, mulutnya seakan terkunci untuk
memberikan suara bahkan hanya seperti ‘ya’ atau ‘baiklah’. Ia segera beranjak
meninggalkan ruangan.
Bright
mengembuskan napas perlahan ketika ia sudah berada di luar ruangan kepala
sekolah, ia menutup pintu ruangan dengan hati-hati. Muka Bright sedikit pucat.
Satu tambahan lagi, ia tidak terbiasa dengan situasi seperti tadi. Rasanya
jantungnya ingin copot saja.
Sekarang
tugasnya adalah mencari laki-laki aneh bin ajaib tadi. Matanya berkeliling
mencari-cari laki-laki itu. Ia berharap semoga saja laki-laki itu belum pergi
terlalu jauh. Jika iya, maka tamatlah hidup Bright. Oh tenang saja, ia hanya
bercanda. Lagipula jika dia tidak ada, lantas siapa yang akan menjadi tokoh
utama cerita ini?
Bright
mulai panik beberapa detik berikutnya. Ia masih belum menemukan sosok yang ia
cari. Waktu terus berjalan. Derap langkahnya menggema di koridor yang ia
lewati. Ia berjalan kesana-kemari untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Bruk!
“Awh!!” seru Bright untuk ketiga kalinya hari
ini di sekolah. Tabrakan ketiga kalinya.
Bright
mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang ia tabrak kali ini.
Tunggu...kepala sekolah? Yang ia tabrak adalah kepala sekolah?!

0 comments:
Post a Comment