Wednesday, March 14, 2018

Chapter 4 Astrophobia


      

     
      “Hey!” ucap Bright pelan-pelan. Ia takut mengganggu laki-laki yang sedang menunduk itu. Walaupun sebenarnya Bright pikir laki-laki itu tidak sedang melakukan aktivitas yang sangat penting untuk diganggu.
            “Hey!” panggil Bright kedua kalinya. Kali ini, ia mencoba mengguncangkan pundak laki-laki itu. Cara itu cukup untuk membuat laki-laki itu menoleh dan menatap Bright dengan mata setengah terbuka.
            “Uhm...ada apa? Aku ingin tiduur...,” Laki-laki itu menjawab dengan nada yang terkesan merajuk. Ia terlihat sedikit menggemaskan –jangan lupa untuk menggaris bawahi kata ‘sedikit’. Bright sangat yakin laki-laki itu masih dalam keadaan setengah sadar.
            “Anu...,”
            “Lo... siapa?” laki-laki itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia sudah kembali ke alam sadar sepertinya. Nada bicaranya sangat berbeda dengan yang baru saja Bright dengar saat ia bangun tidur. Menjadi agak mengerikan dan terkesan dingin.
            “Itu...kelas...,” ucapan Bright terbata-bata. Astaga, ia benar-benar tidak terbiasa berbicara dengan orang baru.
            “Astro, segera kau antarkan murid baru ini ke kelasmu. Ini perintah.” Kepala sekolah angkat bicara. Bright berterima kasih untuk itu.
            “Ma-maksudku itu.”
            “Terserah, apa untungnya buat gue.” Ucapannya benar-benar dingin. Lantas laki-laki itu berlalu meninggalkan ruangan. Bright tersentak. Otaknya seketika seperti membeku. Gadis itu sampai-sampai tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
            Bright hanya berdiri mematung hingga kepala sekolah berucap, “Kau, murid baru, ikuti saja anak itu.” Bright menganggukkan kepala, mulutnya seakan terkunci untuk memberikan suara bahkan hanya seperti ‘ya’ atau ‘baiklah’. Ia segera beranjak meninggalkan ruangan.
           
            Bright mengembuskan napas perlahan ketika ia sudah berada di luar ruangan kepala sekolah, ia menutup pintu ruangan dengan hati-hati. Muka Bright sedikit pucat. Satu tambahan lagi, ia tidak terbiasa dengan situasi seperti tadi. Rasanya jantungnya ingin copot saja.
            Sekarang tugasnya adalah mencari laki-laki aneh bin ajaib tadi. Matanya berkeliling mencari-cari laki-laki itu. Ia berharap semoga saja laki-laki itu belum pergi terlalu jauh. Jika iya, maka tamatlah hidup Bright. Oh tenang saja, ia hanya bercanda. Lagipula jika dia tidak ada, lantas siapa yang akan menjadi tokoh utama cerita ini?
            Bright mulai panik beberapa detik berikutnya. Ia masih belum menemukan sosok yang ia cari. Waktu terus berjalan. Derap langkahnya menggema di koridor yang ia lewati. Ia berjalan kesana-kemari untuk menghilangkan rasa gugupnya.
            Bruk!
            “Awh!!” seru Bright untuk ketiga kalinya hari ini di sekolah. Tabrakan ketiga kalinya.
            Bright mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang ia tabrak kali ini. Tunggu...kepala sekolah? Yang ia tabrak adalah kepala sekolah?!         
           
 pict from : https://www.pinterest.com/pin/18788523415209617/

Share:

0 comments:

Post a Comment

Song